fah nax TKJ
Jumat, 05 November 2010
Merapi meletus lagi
Merapi Meletus 24 Jam
Semeru dan Kaba Mulai Bergolak
SLEMAN - Beberapa gunung berapi di Indonesia bergantian menunjukkan kekuatannya. Belum turun erupsi besar Gunung Merapi dan keluarnya gas beracun di Gunung Anak Krakatau pada Kamis (3/11), kemarin (4/11) Gunung Semeru di Jatim dan Gunung Kaba di Rejang Lebong, Bengkulu, juga mulai bergolak.
Pukul 06.15, warga yang tinggal di lereng Semeru dikejutkan oleh guguran awan panas atau wedhus gembel yang meluncur hingga 4 kilometer. Sementara itu, gempa vulkanis di Gunung Kaba yang semula hanya dua kali sehari kemarin meningkat menjadi delapan kali sehari.
Aktivitas lebih berbahaya kemarin terlihat di Gunung Merapi. Gunung api paling aktif di dunia ini terus-menerus meletus selama lebih dari 24 jam. Suara dentuman terus terdengar. Namun, secara visual, Merapi sama sekali tak terpantau.
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Dr Surono, Merapi tak berhenti meletus sejak Rabu (3/11). ’’Sejak pukul 11.00 kemarin (Rabu, 3/11) hingga kini (kemarin pukul 20.00), Merapi masih terus meletus. Lebih dari 24 jam,’’ ujarnya tadi malam.
Suasana di sisi selatan puncak Merapi atau sisi Sleman kemarin memang sangat mencekam. Pagi itu, visual Merapi sempat terlihat dan tampak awan panas yang membumbung setinggi 4 kilometer, namun kemudian tertutup awan dan kabut. Visual yang lebih jelas terlihat dari sisi timur, yakni dari sisi Klaten.
Dari sana, terlihat puncak Merapi dengan awan panas yang membubung sangat tinggi seperti ular raksasa. Hujan abu dilaporkan jatuh hingga Tasikmalaya. Karena Merapi terus-menerus meletus, suasana di sisi selatan sangat gelap. Sekitar pukul 14.00, suasana sudah seperti pukul 18.00. Hujan cukup deras ditambah kabut membuat visual Merapi sama sekali tidak terlihat. Yang terdengar hanya suara dentuman dan gemuruh dari arah puncak Merapi.
Seismograf terus menunjukkan aktivitas signifikan. Petugas pemantau yang berada sekitar 10 km dari puncak Merapi pun pelan-pelan mundur teratur. Pukul 16.30, seluruh petugas pemantau bahkan sudah turun hingga sejauh 20 km.
Karena itu, lanjut Surono, pihaknya hanya bisa mengamati dan membentuk perimeter aman. ’’Kami tak mau ambil risiko. Sejauh ini, perimeter aman masih 15 km,’’ tutur lulusan S3 dari Prancis ini. Penentuan 15 km tersebut berdasar kemungkinan awan panas Merapi paling jauh menjangkau dalam letusan kali ini.
Dari catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Jogjakarta, sepanjang hari kemarin Merapi masih terus mengeluarkan awan panas. Wedhus gembel yang terbentuk dari kubah lava ini bersifat eksplosif dengan membumbung sampai 4 kilometer ke atas. Sedang jarak jangkauannya mencapai 9 kilometer.
BPPT juga mencatat telah terjadi gempa vulkanik sejak 20 kali. Gempa tremo pun terjadi berentetan. ‘’Kami hanya mengimbau untuk mensterilkan rawan bencana tiga dengan jarak 15 kilometer,’’ ujar Sukhyar, Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM.
Selain mengeluarkan awan panas, Merapi juga menimbulkan suara gemuruh yang terdengar dari jarak10 Km. Awan panas meluncur dari Merapi melalui Kali Senowo, Kali Trising, Kali Boyong, Kali Gendol, dan Kali Kuning. ‘’Awan panas ini juga membuat hujan pasir di sekitar Merapi,’’ tandas Sukhyar.
Meningkatnya volume air di Kali Kuning dan Kali Gendol membuat material vulkanis meluber dan tak tertampung di sungai yang ada. Dari pantauan koran ini, di Kali Kuning, jarak antara atas dam dan permukaan air yang biasanya setinggi 6 meter kini tak lebih dari 2 meter. Selain itu, dilaporkan banyak ikan di Kali Code (Jogja) yang mati karena belerang Merapi mulai masuk ke sungai tersebut.
Dengan meningkatnya aktivitas Merapi tersebut, satu barak pengungsian kembali dikosongkan, satu barak dimundurkan, dan satu barak baru dibuka. Barak yang dikosongkan adalah barak di Kepuharjo (Cangkringan, Sleman) yang berjarak sekitar 8 km dari Puncak Merapi.
Sejatinya, barak Kepuharjo itu belum pernah kena aliran awan panas atau hujan abu. Namun, mengingat jarak aman sudah dimundurkan hingga 15 km dan aktivitas Merapi meningkat, barak yang berisi 1.500 pengungsi tersebut dikosongkan.
Barak yang dimundurkan adalah barak pengungsi di Glagaharjo. Barak baru yang ditempati adalah barak pengungsi di gedung kampus UII (Universitas Islam Indonesia) yang berjarak sekitar 20 km dari puncak Merapi.
Sementara itu, barak pengungsi Desa Wukirsari kemarin menjadi overload. Barak dengan daya tampung 2.000 orang tersebut kemarin disesaki hingga 5.200-an pengungsi. ’’Kondisinya memang sangat darurat,’’ ujar Suranto, koordinator relawan Satgana-Cakra PMI.
Hanya, Surono belum bisa memprediksi tren letusan Merapi kali ini. ’’Terlalu banyak variabel yang belum bisa kami hitung. Bagaimana energi potensialnya dan sejauh apa kekuatan vulkanis yang terjadi di Merapi saat ini. Namun, saya memastikan, energinya cukup berkurang karena ada letusan yang terus-menerus lebih dari sehari ini,’’ tuturnya.
Yang jelas, kata Surono, dirinya belum bisa memperkirakan apakah letusan kemarin merupakan puncak atau justru menuju puncak. ’’Segala kemungkinan masih bisa terjadi,’’ imbuhnya.
Selain ketinggian asap yang diperkirakan mencapai 8 kilometer, hujan abu terus mengarah ke Kabupaten Magelang. ’’Paling parah memang di Kabupaten Magelang. Hingga sore ini masih terjadi,’’ katanya.
Hujan yang mengguyur kawasan Magelang sepanjang hari kemarin membuat arus sungai yang berhulu di Gunung Merapi mengalami banjir lahar dingin. Misalnya, Kali Blongkeng, Krasak, dan Bebeng di Kabupaten Magelang.
’’Arus airnya besar dan deras dengan warna kecokelatan. Tampaknya bercampur lumpur dan abu,’’ ungkap Ahmad Muslim, warga Dusun Nglampung, Desa Pucanganom, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.
Banjir lahar dingin terbesar terjadi di Sungai Putih yang melewati Kecamatan Dukun, Salam, hingga Ngluwar, Kabupaten Magelang. Sejak kemarin pagi, aliran sungai musiman itu berupa lumpur abu-abu dengan kekuatan aliran yang relatif deras. Selain lumpur, aliran sungai membawa sampah kayu dan daun.
Hujan abu yang terjadi di Kabupaten dan Kota Magelang dua hari ini membuat seluruh pelosok wilayah itu tertutupi lumpur. Akibatnya, aktivitas warga nyaris lumpuh lantaran banyak yang memilih tinggal di rumah. Hampir tidak ada aktivitas di tempat-tempat umum.
Pertokoan di Jalan Jogja–Magelang, Jalan Pemuda Muntilan, dan Jalan Pemuda Kota Magelang tampak tutup. Bahkan, Pasar Muntilan sepi. Hanya beberapa kios yang buka saat pagi. Menjelang siang, mereka memilih menutup kios.
’’Seluruh toko tutup. Saya saja susah mencari warung makan yang buka,’’ ujar Hendri, warga Semarang yang bekerja di wilayah Muntilan, Kabupaten Magelang
Rabu, 25 Agustus 2010
Senin, 23 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)